bimbingan konseling

TUGAS
LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING

LAYANAN BIMBINGAN DISEKOLAH

Disusun Oleh :

 

Arofah Septalinda M (A210100024)

 

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

JURUSAN PENDIDIKAN AKUNTANSI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

2011

Program Bimbingan Konseling

  1. Maksud dan tujuan penyusunan program bimbingan dan konseling

Program bimbingan dan konseling adalah suatu rencana kegiatan bimbingan dan konseling yang akan dilaksanakan pada periode waktu tertentu. Program ini memuat unsur-unsur yang terdapat didalam berbagai ketentuan tentang pelaksanaan bimbingan dan konseling dan diorientasikan kepada pencapaian tujuan bimbingan dan konseling disekolah.

Tujuan penyusunan program tidak lain adalah agar kegiatan bimbingan dan konseling disekolah dapat terlaksana dengan lancar, efektif dan efisien, serta hasil-hasilnya dapat dinilai. Tersusun dan terlaksananya program bimbingan dan konseling dengan baik selain akan lebih menjamin pencapaian tujuan kegiatan bimbingan dan konseling pada khususnya, tujuan sekolah pada umumnya, juga akan lebih menegakkan akontabilitas bimbingan dan konseling di sekolah.

  1. Arah kegiatan Bimbingan dan Konseling

  • Kegiatan bimbingan dan konseling diarahkan kepada ;

  1. Terpenuhinya tugas-tugas perkembangan peserta didik dalam setiap tahap perkembangan mereka.

  2. Dalam upaya mewujudkan tugas-tugas perkembangan itu, kegiatan bimbingan dan koseling mendorong peserta didik mengenal diri dan lingkungan, mengembangkan diri dan sikap positif, mengembangkan arah karier dan masa depan.

  3. Kegiatan bimbingan dan konseling meliputi bimbingan pribadi, sosial, belajar dan karier.

  1. Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling

Konsep dalam pelaksanaan program bimbingan dan konseling berdasarkan pada rencana yang telah dibuat oleh guru pembimbing dari program tahunan, semesteran bulanan dan mingguan selanjutnya dijabarkan ke dalam program-program harian yang diwujudkan dalam berbagai satuan layanan (SATLAN). Satlan-satlan inilah yang secara langsung dilaksanakan secara tatap muka dengan siswa yang bersangkutan.

Pelaksanaan isi program itu selalu dikaitkan dengan lima tahapan kegiatan layanan bimbingan dan konseling yaitu ; a). Penyusunan program, b). Pelaksanaan program, c). Penilaian hasil layanan, d). Analisis hasil layanan, e). Tindak lanjut. Penilaian hasil layanan dilakukan dengan memperhatikan prosedur penilaian hasil layanan bimbingan dan konseling, baik bersifat penilaian segera (laiseg), penilaian jangka pendek (laijapen), dan penilaian jangka panjang (laijapang). Untuk setiap jenis layanan, guru pembimbing dituntut untuk melaksanakan kelima tahap tersebut, dan pada setiap akhir semester guru pembimbing melakukan penilaian menyeluruh terhadap hasil-hasil kegiatan bimbingan dan konseling yang ia laksanakan selama satu semester.

  1. Program Menyeluruh Bimbingan dan Konseling

Program bimbingan dan konseling secara menyeluruh secara ideal disusun berturut-turut mulai semester pertama kelas satu sampai dengan semester enam kelas tiga. Program-program tersebut merupakan kesinambungan dinamis dari yang pertama sampai dengan keenam. Sementara kondisi yang demikian itu belum tercapai, para guru pembimbing masing-masing menyusun program bimbingan dan konseling mulai dari semester pertama untuk kelas-kelas yang menjadi tanggungjawabnya.

Dalam praktik lebih lanjut, penyusunan program semester (dimulai dari semester pertama) disusun berdasarkan pengalaman guru pembimbing dalam melaksanakan program-program harian, mingguan dan bulanan. Satu hal yang perlu dipedomi ialah bahwa program-program disusun harus memuat semua unsur yang disebutkan terdahulu. Tersusun dan terlaksannya program menyeluruh, lengkap dan membuat seluruh unsur yang dimaksudkan akan membuat kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah merupakan kegiatan yang dapat diandalkan untuk perkembangan optimal siswa.

Layanan Bimbingan Konseling di Sekolah

Sebagai suatu profesi, wujud kebermaknaan bimbingan dan konseling banyak ditentukan oleh kualitas layanan bimbingan konseling yang dilaksanakan oleh guru pembimbing dan kesempatan yang luas bagi para guru Pembimbing untuk mengembangkan kreativitasnya dalam layanan bimbingan konseling tersebut. Brammer (1984: 4) dalam temuan penelitiannya menunjukkan bahwa ada dua komponen yang perlu diperhatikan untuk menjalankan tugas bimbingan dan konseling dengan baik. Kedua komponen itu adalah: (1) kepribadian petugas bimbingan; dan (2) keterampilan teknis.

  1. Syarat Pribadi Guru Pembimbing

Petugas bimbingan sebagai pribadi harus mampu menampilkan jatidirinya secara utuh, tepat, dan berarti serta membangun hubungan antarpribadi (interpersonal) yang unik dan harmonis, dinamis, persuasif dan kreatif sehingga menjadi motor penggerak keberhasilan layanan bimbingan dan konseling. Corey (1986: 358-361), menyatakan “alat yang paling penting untuk dipakai dalam pekerjaan seorang petugas bimbingan adalah dirinya sendiri sebagai pribadi (ourself as a person). Pada bagian lain dari tulisannya itu, ia tidak ragu-ragu mengatakan bahwa “…para konselor hendaknya mengalami sebagai klien pada suatu saat, karena pengenalan terhadap diri sendiri bisa menaikkan tingkat kesadaran (self-awareness).

Apabila petugas bimbingan hanya menjadi reflektor perasaan, pengamat netral yang membuat penafsiran atau sebagai pribadi yang bersembunyi dibalik keamanan dari peran yang dimainkannya, ia tidak mungkin mengharapkan klien untuk berkembang ke arah yang lebih baik. Ia harus bertindak dan sekaligus sebagai model bagi kliennya. Ia menampilkan dirinya apa adanya, terbuka, dan terlibat dalam penyingkapan diri yang layak dan fasilitatif sehingga dapat mendorong klien menyatukan sifat-sifat yang sama ke dalam dirinya.

Lebih jauh Corey (1991) menyatakan kalau petugas bimbingan hanya bertumpu pada keterampilan profesional dan meninggalkan diri pribadinya, maka kegiatan-kegiatan bimbingan dan konseling akan menjadi mandul, sedangkan Tyler (1969) menekankan bahwa kompetensi intelektual, stabilitas emosi, sikap menerima dan mengerti merupakan ciri-ciri yang harus ada pada petugas bimbingan. George & Christiani dalam Yusuf (1995: 108), mengemukakan ciri-ciri petugas bimbingan yang efektif, yakni: (1) membuka diri dan menerima pengalaman sendiri; (2) menyadari akan nilai dan pendapatnya sendiri; (3) dapat membina hubungan yang hangat dan mendalam dengan orang lain; (4) bisa membiarkan diri sendiri dilihat orang lain sebagaimana adanya; (5) menerima tanggung jawab pribadi dari perilakunya sendiri; dan (6) mengembangkan tingkat aspirasi yang realistik.

Dari berbagai uraian di atas dapat disimpulkan bahwa seorang petugas bimbingan dalam interrelasinya dengan siswa haruslah “menghadirkan” dirinya sebagai pribadi dan menyenangi pekerjaannya. Ia berfungsi sebagai instrumen katalisator dan agen-agen pembangkit kesadaran serta pertumbuhan klien.

  1. Petugas Bimbingan Sebagai Tenaga Profesional

Bimbingan dan konseling sebagai suatu profesi merupakan pelayanan sosial yang unik, suatu pelayanan yang membutuhkan tenaga profesional yang mendapatkan pendidikan khusus dalam bidang bimbingan dan konseling. Profesi ini lebih mengacu pada pengabdian pada masyarakat demi perkembangan individu daripada mendapatkan keuntungan finansial atau kepentingan pribadi. Layanan yang bermutu dan menjangkau semua siswa di sekolah akan “menaikkan” kepedulian masyarakat sekolah akan bimbingan dan konseling serta mendorong berbagai pihak untuk berpartisipasi dalam mengembangkan bimbingan dan konseling di sekolah.

Petugas bimbingan profesional mengetahui peran dan tugas yang akan dilaksanakannya, kapan harus melaksanakan, kapan harus menghentikan serta mampu dan terampil melaksanakan tugas secara profesional. Keberadaannya di sekolah bukanlah semata-mata berhubungan dengan siswa, tetapi terkait dengan tenaga kependidikan yang lain. Petugas bimbingan sekolah hendaklah memenuhi tanggung jawabnya terhadap: (1) siswa; (2) orang tua; (3) guru; (4) kepala sekolah; (5) orang lain dalam masyarakat; dan (6) profesi.

Munro et al (1983: 48-60), mengelompokkan berbagai keterampilan yang diperlukan dalam konseling, yaitu sebagai berikut.

  1. Keterampilan memulai konseling:

(1) dengan ajakan; (2) pertanyaan terbuka; (3) dengan mengikuti pokok pembicaraan; (4) dengan dorongan minimal; (5) mendengarkan dengan tepat dan aktif; (6) dengan ajakan untuk memikirkan sesuatu yang lain; (7) dengan mengajak dan menghadapkan pada situasi yang bertentangan, dan (8) dengan suasana diam.

  1. Keterampilan mengembangkan hubungan konseling; terdiri dari:

(1) keterampilan memberikan dorongan, seperti: (a) keterampilan mengenal perasaan; (b) mengungkapkan perasaan diri sendiri; (c) refleksi; dan (d) memahami dengan cermat;

(2) keterampilan memberikan pengarahan, meliputi: (a) memberikan informasi; (b) memberikan nasihat; (c) bertanya secara langsung; (d) mempengaruhi dan mengajak; (e) menggunakan contoh pribadi; (f) memberi penafsiran; (g) mengkonfrontasikan; (h) mengupas masalah; dan (i) menyimpulkan.

Sedangkan Wayne W. Dyer et al (1977: 26-33) mengemukakan 14 kompetensi petugas bimbingan dalam melaksanakan konseling mulai dari pertemuan awal/membuka konseling sampai dengan menutup konseling. Keempat belas kompetensi dimaksud, adalah: (1) kemampuan bertanya, menjelajah, mendorong pembicaraan, mengungkapkan materi yang berkaitan dengan masalah; (2) pemberian informasi; (3) perilaku non verbal; (4) kesiapan mencapai tujuan; (5) penegasan, penekanan, dan menggarisbawahi; (6) meyakinkan, mendorog dan memberikan semangat; (7) membentuk hubungan; (8) pengujian hipotesis; (9) menyatakan kembali; (10) mengidentifikasi, menamai, menjelaskan dan memantulkan perasaan; (11) konfrontasi; (12) menginterpretasikan; (13) menyimpulkan atau merangkum materi yang penting; dan (14) mengakhiri konseling.

ACES (Association for Counselor Education and Supervision) merumuskan tentang “Standard for the Preparation of Counselors and Others Personnel Services Specialists” yang terdiri dari lima komponen, yakni: “(1) Introduction; (2) Objectives; (3) Curriculum; (4) Responsibility Concerning Students in the program; (5) Support for the Counselor Education Program, Administratives Relations, and Institutional Resources. Dalam bagian kurikulum dikemukakan: karakteristik umum program, pengalaman tersupervisi dan program pengembangan. Program Inti, terdiri dari hal-hal berikut.

  1. Pertumbuhan dan perkembangan manusia, yang menyediakan pemahaman yang luas tentang hakikat dan kebutuhan individu dalam semua tingkatan perkembangan, dengan menggunakan pendekatan psikologis, sosiologis, dan fisiologis. Juga termasuk ke dalam aspek ini: tingkah laku manusia normal dan abnormal, teori kepribadian, dan teori belajar.

  2. Dasar-dasar sosial dan kultural.

  3. Relasi hubungan yang bersifat membantu (helping relationship), yang mencakup: dasar filosofis relasi hubungan; teori konseling, praktek terbimbing dan aplikasi; teori dan praktek konsultasi; dan perkembangan konselor-klien (self-awareness dan self-understanding).

  4. Kelompok, yang mencakup: teori dan tipe kelompok; deskripsi praktek kelompok; metode, dinamika dan keterampilan mempermudah serta praktek terbimbing.

  5. Gaya hidup dan pengembangan karir, yang mencakup: teori pemilihan karir; hubungan pemilihan karir dan kehidupan; informasi pendidikan dan jabatan; pendekatan dalam proses pemilihan karir serta teknik-teknik eksplorasi pengembangan karir.

  6. Penilikan individual, termasuk di dalam kelompok ini: cara pengumpulan dan interpretasi data, tes individu dan kelompok; pendekatan-pendekatan studi kasus; dan studi perbedaan individu.

  7. Penelitian dan evaluasi, yang mencakup: statistik, rancangan penelitian, pengembangan penelitian dan usul penelitian.

  8. Orientasi profesional, mencakup: tujuan organisasi profesi; kode etik, legalitas, standar persiapan petugas, sertifikasi, lisensi, dan peranan konselor serta petugas layanan spesialis yang lain (Tolbert, 1982: 368-369).

Selanjutnya untuk pemantapan pengetahuan, kemampuan dan keterampilan diberikan pula pengalaman praktek dalam situasi yang sebenarnya di bawah bimbingan petugas bimbingan yang berpengalaman. Pengalaman tersupervisi ini dapat berupa observasi, bekerja langsung dengan individu dan kelompok dalam latar (setting) yang cocok, atau pengalaman tersupervisi melalui laboratorium, praktikum dan internship (magang).

Di samping persiapan pendidikan pre-service yang matang bagi petugas bimbingan profesional, keterandalan layanan bimbingan dan konseling di sekolah merupakan wujud lain dari kemampuan profesional petugas bimbingan. Dalam kaitan itu McCully (1968: 19-25) menyatakan bahwa ada enam tugas perkembangan yang perlu mendapat perhatian yang memungkinkan terwujudnya layanan profesional dalam bimbingan dan konseling. Keenam tugas tersebut, adalah sebagai berikut.

  1. Pelayanan sosial yang unik, yang ditampilkan oleh petugas-petugas bimbingan harus dirumuskan sedemikian rupa sehingga secara jelas memperlihatkan perbedaan yang nyata dari pelayanan ahli atau petugas lain. Ini berarti bahwa dalam pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah, pelayanan yang ditawarkan dan dilakukan oleh petugas bimbingan jelas bedanya dari tugas atau pelayanan yang dilakukan oleh petugas lain, yang bekerja secara amatir.

  2. Standar seleksi dan latihan bagi calon petugas bimbingan dikembangkan dan diawasi profesi. Standar ini harus mendapat persetujuan dari kelompok profesional maupun lembaga yang mempersiapkan tenaga bimbingan.

  3. Agar standar seleksi dan latihan berguna serta menemui sasarannya, perlu dirumuskan prosedur akreditasi terhadap lembaga penyiapan petugas bimbingan.

  4. Untuk meyakinkan pemakai jasa konseling, petugas bimbingan yang dihasilkan oleh lembaga pendidikan petugas bimbingan itu hendaklah memiliki kompetensi minimum, sebagai petugas bimbingan yang profesional. Sehubungan dengan itu perlu pula diselenggarakan sertifikasi yang benar-benar sahih terhadap kompetensi minimum yang diharapkan.

  5. Petugas bimbingan yang sudah memiliki sertifikasi sebagai petugas bimbingan profesional harus secara aktif memperjuangkan pengembangan dan penyelenggaraan kebebasan profesional yang memungkinkan melaksanakan pelayanan khusus yang menjadi kewajibannya.

  6. Kelompok petugas bimbingan harus memiliki dan menerapkan kode etik yang mengatur dan mengontrol tingkah laku para anggotanya.

Sedangkan Belkin (1981: 188-189) mengemukakan lima unsur yang perlu diikuti oleh petugas bimbingan sekolah kalau ia mau diakui keterandalan layanan yang diberikannya. Kelima unsur itu adalah sebagai berikut.

  1. Petugas bimbingan sekolah harus memulai karirnya sejak hari-hari pertama menampilkan dirinya sebagai petugas bimbingan sekolah dengan program kerja yang jelas dan siap melaksanakan tugas tersebut.

  2. Petugas bimbingan harus selalu mempertahankan sikap profesional tanpa mengganggu keharmonisan hubungannya dengan personil lainnya di sekolah itu dan dengan siswa.

  3. Merupakan tanggung jawab petugas bimbingan profesional untuk memahami perannya sebagai petugas bimbingan profesional dan menerjemahkannya ke dalam kegiatan nyata.

  4. Petugas bimbingan sekolah akan dapat efektif apabila ia memahami tanggung jawabnya kepada semua siswa, baik yang gagal, yang menimbulkan gangguan, yang berkemungkinan putus sekolah, yang mengalami kesulitan dalam belajar, yang mengalami masalah emosional, yang istimewa (gifted), yang berpotensi rata-rata, yang pemalu dan yang menarik diri dari khalayak ramai maupun yang bersikap menarik perhatian atau yang mengambil muka pada petugas bimbingan dan personil lainnya.

  5. Petugas bimbingan harus memahami dan mengembangkan kompetensi untuk membantu siswa yang mengalami masalah dengan kadar yang cukup serius dan yang menderita gangguan emosional melalui berbagai kegiatan dan program di sekolah dan dalam bentuk layanan lainnya.

Dari keseluruhan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah, baik ditinjau dari tanggung jawab maupun ruang lingkup garapan jauh lebih kompleks dari pada masa-masa sebelumnya. Kompleksitas dan keberagaman tugas tersebut membutuhkan petugas bimbingan profesional yang dipersiapkan secara matang melalui pendidikan.
(dari berbagai sumber)

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s