pembelajaran konstruktivistik

PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVISTIK SEBAGAI PEMBELAJARAN AKUNTANSI YANG EFEKTIF DI SMK

A. PENDAHULUAN

Pendidikan menengah kejuruan merupakan pendidikan pada jenjang pendidikan menengah yang mengutamakan pengembangan kemampuan peserta didik untuk dapat bekerja dalam bidang tertentu, kemampuan beradaptasi di lingkungan kerja, melihat peluang kerja dan mengembangkan diri di kemudian hari. Definisi ini sesuai dengan UU Sisdiknas tahun 2003 pasal15 yang berbunyi pendidikan kejuruan merupakan pendidikan menengah yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk bekerja dalam bidang keahlian tertentu.
Terdapat beberapa bidang keahlian dalam SMK, salah satunya adalah bidang Akuntansi. Menurut Harahap (2003:4), Akuntansi adalah seni pencatatan, penggolongan, dan pengikhtisaran dengan cara tertentu dan dalam ukuran moneter, transaksi, dan kejadian-kejadian yang umumnya bersifat keuangan dan termasuk menafsirkan hasil-hasilnya. Akuntansi di SMK merupakan salah satu jurusan yang bertujuan untuk menghasilkan lulusan yang memiliki keahlian dan siap bekerja dalam bidang Akuntansi. Untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas tentu memerlukan pembelajaran yang berkualitas juga. Oleh karena itu, perlu dipilih model pembelajaran Akuntansi yang efektif di SMK.
Model pembelajaran yang biasa diterapkan dalam pembelajaran di SMK adalah pembelajaran behavioristik. Dalam pembelajaran behavioristik, belajar dianggap sebagai perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan ke orang yang belajar. Tetapi pada kenyataannya pengetahuan yang dimiliki pendidik tidak dapat dengan mudah dipindahkan ke peserta didik. Model pembelajaran behavioristik selama ini berorientasi pada penyeragaman yang pada akhirnya membentuk seorang individu yang sulit menghargai perbedaan. Pembelajaran inilah yang perlu diperbaiki karena pembelajaran tersebut hanya melihat hasil yang diperoleh setelah belajar dan bukan proses ketika belajar. Hal tersebut mengakibatkan siswa tidak benar-benar memahami konsep dalam belajarnya, sehingga hasil belajar siswa menjadi tidak bermakna.
Sekarang ini tidak semua lulusan SMK memiliki keahlian dan siap bekerja dalam bidangnya. Hal ini menunjukkan bahwa tujuan SMK belum sepenuhnya tercapai. Melihat fakta tersebut, guru di SMK perlu memahami pembelajaran yang harus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan life skills. Guru juga perlu pengenalan makna dan teori belajar secara lebih baik dalam rangka membimbing dan membina siswa agar lebih mandiri dan memiliki keinginan untuk merekonstruksi dunia belajar ke dunia kerja. Hal itu didukung dengan pendapat ahli pendidikan yang menyatakan bahwa “learning to do is most important, knowledge hill somehow seep into process” (Ahmad Baedowi,
http://rumahilmuindonesia.net).
Untuk itu SMK sudah seharusnya mengganti model pembelajaran yang lama dengan model pembelajaran yang dapat secara langsung memotivasi siswa untuk memahami sekaligus membangun arti baru. Model pembelajaran yang dapat digunakan sebagai alternatif untuk memotivasi siswa dalam membangun arti baru adalah model pembelajaran konstruktivistik.

B. RUMUSAN MASALAH

1. Apa yang dimaksud dengan teori konstruktivisme?

2. Bagaimana teori konstruktivisme diterapkan dalam pembelajaran akuntansi di SMK?
3. Bagaimana implementasi pembelajaran konstruktivistik pada SMK?

C. PEMBAHASAN

Konstruktivisme menekankan agar individu secara aktif menyusun dan membangun pengetahuan dan pemahaman. Konstruktivisme dikembangkan luas oleh Jean Piaget, ia dikenal sebagai seorang psikolog yang pada akhirnya lebih tertarik pada filsafat konstruktivisme dalam proses belajar. Titik sentral teori Jean Piaget adalah perkembangan fikiran secara alami dari lahir sampai dewasa, menurut Piaget untuk memahami teori itu perlu memahami tentang asumsi-asumsi biologi maupun implikasi asumsi-asumsi tersebut dalam mengartikan pengetahuan (http://pusdiklatdepdiknas.net).

Paradigma konstruktivisme oleh Jean Piaget menjadi landasan munculnya strategi kognitif yang disebut dengan teori meta cognition. Meta cognition merupakan ketrampilan yang dimiliki oleh siswa-siswa dalam mengatur dan mengontrol proses berfikirnya (Preisseisen, http://pusdiklatdepdiknas.net).

Menurut Preisseisen meta cognition meliputi empat jenis keterampilan, yaitu:
1. Keterampilan Pemecahan Masalah (problem solving), yaitu keterampilan individu dalam menggunakan proses berfikirnya untuk memecahkan masalah melalui pengumpulan fakta-fakta, analisis informasi, menyusun berbagai alternatif pemecahan dan memilih pemecahan masalah yang paling efektif.
2. Keterampilan Pengambilan Keputusan (decision making), yaitu keterampilan individu dalam menggunakan proses berfikirnya untuk memilih suatu keputusan yang terbaik dari beberapa pilihan yang ada melalui pengumpulan informasi, perbandingan kebaikan dan kekurangan dari setiap alternatif, alternatif informasi dan pengambilan keputusan yang terbaik berdasarkan alasan- alasan yang rasional.
3. Keterampilan Berfikir Kritis (critical thinking), yaitu keterampilan individu dalam menggunakan proses berfikirnya yaitu menganalisa argument dan memberikan interpretasi berdasarkan persepsi yang benar dan rasional, analisis asumsi dan bias dari argument dan interpretasi logis.
4. Keterampilan Berfikir Kreatif (creative thinking), yaitu keterampilan individu dalam menggunakan proses berfikirnya untuk menghasilkan gagasan yang baru, konstruktif berdasarkan konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang rasional maupun persepsi, dan institusi individu.

Keterampilan-keterampilan di atas saling terkait satu dengan yang lainnya dan sulit untuk dibedakan karena keterampilan-keterampilan tersebut terintegrasi. Paradigma konstruktivisme melahirkan prinsip reflection in action, yang mana prinsip tersebut merupakan gambaran tentang proses belajar. Seseorang belajar melalui aktivitasnya sendiri dan kemudian mengkaji ulang dari aktivitas yang dilakukannya. Berdasarkan teori konstruktivisme bahwa proses belajar diawali dari pengalaman nyata yang dialami oleh seseorang. Pengalaman tersebut direfleksi secara individual. Menurut Brooks & Brooks dalam Santrock (2008:8) mengemukakan bahwa dalam pandangan konstruktivisme, “guru bukan sekedar member informasi ke pikiran anak, akan tetapi guru harus mendorong anak untuk mengeksplorasi dunia mereka, menemukan pengetahuan, merenung dan berfikir secara kritis”.

Sebagaimana telah dikemukakan bahwa menurut teori belajar konstruktivisme, pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari pikiran guru ke pikiran siswa. Hal ini berarti seorang siswa harus secara aktif secara mental membangun struktur pengetahuannya berdasarkan kematangan kognitif yang dimilikinya. Model pembelajaran konstruktivistik menekankan pada belajar bagaimana belajar (learn how to learn). Dengan model pembelajaran ini, siswa yang aktif untuk menggali potensi yang dimiliki dan mengembangkan pengetahuannya sendiri. Pengertian belajar dalam pembelajaran konstruktivistik adalah penyusunan dari pengalaman konkrit, aktivitas kolaboratif dan refleksi serta interpretasi, sedangkan mengajar adalah menata lingkungan agar peserta didik termotivasi dalam menggali makna serta menghargai perbedaan.

Berdasarkan teori J. Piaget maka model pembelajaran konstruktivistik di kelas dapat dirancang atau didesain dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Identifikasi prior knowledge dan miskonsepsi

Identifikasi awal terhadap gagasan intuitif yang mereka miliki terhadap lingkungannya dijaring untuk mengetahui kemungkinan-kemungkinan akan munculnya miskonsepsi yang menghinggapi struktur kognitif siswa. Identifikasi ini dilakukan dengan tes awal dan interview.
2. Penyusunan program pembelajaran

Program pembelajaran dijabarkan dalam bentuk satuan pelajaran.
3. Orientasi dan elicitasi

Untuk membangkitkan minat dan semangat siswa terhadap topik yang akan dibahas maka perlu diciptakan suasana pembelajaran yang kondusif dan menyenangkan pada awal-awal pembelajaran. Siswa dituntun untuk mengemukakan gagasannya yang berkaitan dengan topik melalui diskusi, menulis, ilustrasi gambar dan sebagainya. Gagasan-gagasan tersebut selanjutnya dipertimbangkan bersama. Guru perlu menciptakan suasana yang santai sehingga siswa tidak takut untuk mengutarakan gagasannya dan tidak khawatir dicemooh ketika gagasan yang disampaikannya salah atau tidak sesuai dengan yang diharapkan. Kebenaran akan gagasan siswa akan terungkap dengan sendirinya melalui penalaran dalam tahap konflik kognitif.

4. Refleksi

Pada tahap ini, berbagai macam gagasan yang bersifat miskonsepsi yang muncul pada tahap orientasi dan elicitasi direfleksikan dengan miskonsepsi yang telah dijaring pada tahap awal. Miskonsepsi ini diklasifikasi berdasarkan tingkat kesalahan dan kekonsistenannya untuk memudahkan merestrukturisasikannya.


5. Restrukturisasi ide

Dalam tahap ini terdapat beberapa bagian, yaitu:

a. Tantangan, dimana siswa diberi pertanyaan-pertanyaan tentang gejala-gejala yang dapat diperagakan atau diselidiki dan selanjutnya siswa diminta untuk meramalkan hasil penyelidikan dan mengemukakan alasan untuk mendukung ramalannya itu.

b. Konflik kognitif dan diskusi kelas, siswa akan dapat melihat sendiri apakah ramalannya benar atau salah. Siswa didorong untuk menguji keyakinan dengan melakukan penyelidikan. Jika ramalannya meleset, siswa akan mengalami konflik kognitif dan mulai tidak puas dengan gagasan yang telah dikemukakannya. Selanjutnya siswa didorong untuk memikirkan penjelasan yang sesuai dengan gejala yang dilihat.

c. Membangun ulang kerangka konseptual, siswa dituntun untuk menemukan sendiri bahwa konsep-konsep yang baru itu memiliki konsistensi internal. Hal itu menunjukkan bahwa konsep ilmiah yang baru memiliki keunggulan dari gagasan yang lama.

6. Aplikasi

Tahap ini adalah menyakinkan siswa akan manfaat untuk beralih konsepsi dari miskonsepsi menuju konsepsi ilmiah dan menganjurkan siswa untuk menerapkan konsep ilmiahnya tersebut dalam berbagai macam situasi untuk memecahkan masalah yang instruktif dan menguji penyelesaian secara empiris.

7. Review

Tahap ini dilakukan untuk meninjau keberhasilan strategi pembelajaran yang telah berlangsung dalam upaya mereduksi miskonsepsi yang muncul pada awal pembelajaran. Revisi terhadap strategi pembelajaran dilakukan bila miskonsepsi yang muncul kembali bersifat resisten. Hal ini penting dilakukan agar miskonsepsi yang resisten tersebut tidak selamanya menghinggapi struktur kognitif, yang pada akhirnya akan bermuara pada kesulitan belajar dan rendahnya prestasi siswa yang bersangkutan.

Dalam pembelajaran Akuntansi, model pembelajaran konstruktivistik dapat diterapkan sebagai upaya untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. Rancangan pembelajaran konstruktivistik dapat dilakukan dalam pembelajaran Akuntansi di SMK, misalnya dengan mengaitkan materi Akuntansi dengan lingkungan atau fakta yang sedang terjadi, yang nantinya akan muncul gagasan-gagasan dari siswa mengenai hal tersebut dan kemudian dapat dilanjutkan dengan melakukan strategi dalam pembelajaran konstruktivistik.

Salah satu implementasi pembelajaran konstruktivistik pada SMK yaitu guru sebagai pendidik berfungsi sebagai fasilitator aktif , terutama dalam memandu siswa untuk mempertanyakan asumsi siswa dan melatih siswa dalam merekonstruksi makna baru dari sebuah pengetahuan. Guru konstruktivis lebih tertari untuk membongkar sebuah makna daripada menentukan suatu materi. Dengan demikian peran guru dalam pembelajaran konstruktivistik adalah menyediakan sarana yang merangsang siswa berfikir secara produktif, dan memonitor serta mengevaluasi hasil belajar siswa.
Pembelajaran konstruktivistik untuk SMK sangat penting karena siswa belajar dalam lingkungan dan tempat kerja. Praktik kerja dalam SMK memang beresiko tinggi tetapi jika guru bertindak benar baik sebagai fasilitator maupun pemandu, guru dapat membantu siswa dalam belajar merekonstruksi pikirannya melalui sebuah keadaan secara bersama-sama. Aktivitas adalah salah satu faktor dalam konstruksi pengetahuan dan keikutsertaan siswa dalam seluruh aktivitas dan interaksi pembelajaran setiap hari merupakan kekuatan untuk mengakses informasi dan keterampilan yang lebih tinggi. Bertambahnya pengalaman secara rutin dan langsung dalam melakukan suatu pekerjaan akan memberikan siswa kemampuan untuk memecahkan masalah secara efektif, reflektif dan berkesinambungan.
Pada sekolah kejuruan, ada beberapa program yang dapat dilakukan sebagai penerapan pendekatan pemelajaran konstruktivisme ini, diantaranya adalah program Pendidikan Sistem Ganda (PSG) dan Teaching Factory (TF).

1. Pendidikan Sistem Ganda (PSG)

PSG pada dasarnya merupakan suatu bentuk penyelenggaraan pendidikan keahlian profesional yang memadukan secara sistematik dan sinkron program pendidikan di sekolah dan program penguasaan keahlian yang diperoleh melalui kegiatan bekerja langsung di dunia kerja, terarah untuk mencapai suatu tingkat keahlian profesional tertentu. PSG merupakan suatu strategi yang mendekatkan peserta didik ke dunia kerja dan ini adalah strategi proaktif yang menuntut perubahan sikap dan pola pikir siswa.

2. Teaching Factory (TF)

Teaching Factory (TF) adalah suatu konsep pembelajaran dalam suasana sesungguhnya, sehingga dapat menjembatani kesenjangan kompetensi antara kebutuhan industri dan pengetahuan di sekolah. Proses pendekatan pembelajaran dengan TF adalah perpaduan antara pendekatan pembelajaran CBT (competency based training) dan PBT (production based training). CBT memberikan penekanan pada apa yang dapat dilakukan siswa dari hasil belajar yang sudah diperoleh baik pemahaman pengetahuan maupun keterampilan. PBT adalah suatu proses pembelajaran keahlian atau keterampilan yang dirancang dan dilaksanakan berdasarkan prosedur dan stándar kerja yang sesungguhnya (real job) untuk menghasilkan barang dan jasa sesuai dengan tuntutan pasar atau konsumen.
Pada kedua macam pendekatan pembelajaran tersebut, siswa diberikan kesempatan untuk mendapatkan pengalaman belajar langsung (magang). Secara tidak langsung siswa akan melalui tahap-tahap skema asimilasi dan akomodasi dari pemahaman pengetahuan yang didapatkan di sekolah dengan penerapannya di dunia usaha atau dunia industri.

D. KESIMPULAN

Pendekatan konstruktivisme memandang bahwa penguatan keterampilan siswa melalui sebuah praktik lapangan (magang) adalah dalam rangka menumbuhkan kepuasan batin agar perasaan siswa terstimulasi secara positif. Konstruktivisme merupakan langkah pendekatan dalam proses pembelajaran yang menekankan pada upaya memberikan kesempatan seluasnya kepada siswa untuk bekerja sendiri dengan menemukan sendiri hal-hal yang harus dipelajari dan selanjutnya dari penemuan tersebut, maka siswa dapat membangun atau mengkonstruksi kemampuan dirinya sehingga dapat menemukan hal-hal yang berguna bagi dirinya dan terus berusaha untuk melahirkan ide-ide baru.

E. DAFTAR PUSTAKA

Baedowi, Ahmad. Konstruktivisme dan Sekolah Kejuruan. http://rumahilmuindonesia.net. Diakses tanggal 22 juni 2011 pada 06.50 am

Hamzah. 2006. Teori Belajar Konstruktivisme. http://sman1sukaraja.com/1/. Diakses tanggal 22 Juni 2011 pada 07.02 am

Harahap, Sofyan S. 2003. Teori Akuntansi. Jakarta: Raja Grafindo Persada

NN. Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi. http://pusdiklatdepdiknas.net. Diakses tanggal 22 Juni pada 06.34 am

Santrock, John W. 2008. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Prenada Media Group
Syah, Muhibbin. 2008. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. Bandung: Remaja Rosdakarya

Uno, Hamzah B. 2008. Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif. Jakarta: Bumi Aksara

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s