kekerasan dalam dunia pendidikan

KEKERASAN DALAM DUNIA PENDIDIKAN

Disususn Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah

Seminar Ekonomi Akuntansi

Dosen Pengampu Drs. Djoko Suwandi, SE., M.Pd

 

 

 

 

Disusun oleh:

AROFAH SEPTALINDA M

A 210 100 024

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AKUNTANSI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

2013

KEKERASAN DALAM DUNIA PENDIDIKAN

  1. Latar Belakang

Tindakan kekerasan sangat akrab dengan kehidupan sehari-hari yang terjadi dalam ruang lingkup masyarakat, keluarga maupun sekolah. Dalam menyelesaikan suatu konflik atau permasalahan selalu disertai dengan tindakan kekerasan. Secara umum, tindakan kekerasan dapat diartikan sebagai suatu tindakan yang dapat merugikan orang lain, baik secara fisik maupun secara psikis. Kekerasan tidak hanya berbentuk eksploitasi fisik semata, tetapi justru kekerasan psikislah yang perlu diwaspai karena akan menimbulkan efek traumatis yang cukup lama bagi si korban. Dewasa ini, tindakan kekerasan dalam pendidikan yang sering dikenal dengan istilah Bullying.

Tindakan kekerasan dalam pendidikan ini dapat dilakukan oleh siapa saja, misalnya teman sekelas, kakak kelas dengan adik kelas, guru dengan muridnya dan pemimpin sekolah dengan staffnya. Tindakan kekerasan tersebut sama sekali tidak bisa dibenarkan meskipun terdapat beberapa alasan tertentu yang melatarbelakanginya. Tindakan kekerasan juga bisa terjadi dalam bentuk aksi demonstrasi mahasiswa, baik dalam bentuk fisik maupun dalam bentuk lisan. Misalnya, mencaci maki, berkata kasar dan kotor, serta tawuran yang terjadi antar mahasiswa.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan UNICEP (2006) di beberapa daerah di Indonesia menunjukkan bahwa sekitar 80% kekerasan yang terjadi pada siswa dilakukan oleh guru. Seperti yang terjadi di Solo pada awal Mei bahwa ada kasus Siswa Kelas IV SD Dipukul Guru ( Radar Solo, 4/05/2013).

Kasus perilaku kekerasan dalam pendidikan memiliki beberapa kategori. Pertama adalah kekerasan dalam kategori yang ringan, yakni kekerasan yang langsung selesai di tempat dan tidak menimbulkan kekerasan susulan atau aksi balas dendam dari si korban. Kedua adalah kekerasan dalam kategori sedang, yakni kekerasan yang tetap bisa diselesaikan oleh pihak sekolah dengan bantuan aparat keamanan. Ketiga adalah kekerasan dalam kategori berat yang terjadi di luar sekolah, mengarah pada tindakan kriminal, dan ditangani oleh aparat kepolisian atau pengadilan.

Pada umumnya, kasus-kasus perilaku kekerasan berada dalam kategori ringan atau sedang karena masih terjadi dalam ruang lingkup sekolah dan berada pada jam sekolah yang disertai dengan membawa atribut sekolah. Perilaku dalam kategori berat biasa terjadi diluar sekolah tetapi akan dicermati terlebih dahulu, apakah kasusnya membawa nama dan melibatkan pihak sekolah atau tidak. Jika ya, maka kekerasan tersebut merupakan tindak kriminal yang berada diluar tanggung jawab lembaga pendidikan dan menjadi wewenang lembaga peradilan. Jika tidak, maka kekerasan tersebut merupakan tindak kriminal yang berada di luar tanggung jawab lembaga pendidikan dan menjadi wewenang lembaga peradilan.

  1. Faktor Penyebab Terjadinya Kekerasan dalam Dunia Pendidikan

Penyebab seseorang melakukan kekerasan dipengaruhi oleh banayk faktor, antara lain:

Kekerasan muncul akibat adanya pelanggaran yang disertai dengan hukuman terutama berupa hukuman fisik. Kekerasan terjadi karena guru tidak paham akan makna kekerasan dan akibat negatifnya. Guru mengira bahwa peserta didik akan jera dengan hukuman fisik yang diberinya. Sebaliknya, mereka akan benci, dendam dan tidak respek lagi padanya. Kekerasan dalam dunia pendidikan bisa terjadi karena pendidik sangat kurang memiliki kasih sayang terhadap murid atau dahulu dia sendiri pernah diperlakukan keras, dan kurangnya kompetensi kepala sekolah membimbing dan mengevaluasi pendidik di sekolahnya.

Selain itu faktor yang bisa ikut mempengaruhi terjadinya kekerasan, adalah dari sikap siswa tersebut. Sikap siswa tidak bisa dilepaskan dari dimensipsikologis dan kepribadian siswa itu sendiri.  Perasaan bahwa dirinya lemah, tidak pandai, tidak berguna, tidak berharga, tidak dicintai, kurang diperhatikan, rasa takut diabaikan, bisa saja membuat seorang siswa mencari perhatian dan malah “memancing” emosi temannyato meskipun dengan cara yang tidak sehat. Contohnya, tidak heran jika anak berusaha mencari perhatian dengan bertingkah yang memancing amarah, agresifitas,atau pun hukuman. Tapi, dengan demikian, tujuannya tercapai, yakni mendapat perhatian. Sebaliknya, bisa juga perasaan inferioritas dan tidak berharga di kompensasikan dengan menindas pihak lain yang lebih lemah supaya dirinya merasa hebat. 

  1. Dampak Kekerasan dalam Dunia Pendidikan

  1. Fisik, mengakibatkan organ-organ tubuh siswa mengalami kerusakan, seperti memar, luka-luka, dll.

  2. Psikologis, rasa takut, rasa tidak aman, dendam, menurunnya semangat belajar, daya konsentrasi, kreativitas, hilang inisiatif, daya tahan (mental), menurunnya rasa percaya diri, inferior, stress, depresi, dsb. Dalam jangka panjang bisa berakibat pada penurunan prestasi, perubahan perilaku.

  3. Sosial, siswa yang mengalami tindakan kekerasan tanpa ada penanggulangan, bisa saja menarik diri dari lingkungan pergaulan, karena takut, merasa terancam dan merasa tidak bahagia berada diantara teman-temannya. Mereka juga jadi pendiam, sulit berkomunikasi baik dengan guru maupun dengan sesama teman. Bisa jadi mereka jadi sulit mempercayai orang lain, dan semakin menutup diri dari pergaulan

  1. Solusi Mengatasi Kekerasan dalam Dunia Pendidikan

  1. Penerapan sistem humanisasi pendidikan

Humanisasi pendidikan merupakan upaya untuk menyiapkan generasi bangsa yang cerdas nalar, cerdas emosional, dan cerdas spiritual, bukan malah menciptakan individu-individu yang berwawasan sempit, traditional, pasif, dan tidak mampu menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi.

  1. Menumbuhkan kesadaran kepada pendidik.

Selain menjadi seorang pengajar, seorang guru juga berperan sebagai pendidik dan motivator bagi siswa-siswinya. Sebagai seorang pengajar, guru dituntut berkerja cerdas dan kreatif dalam mentranformasikan ilmu atau materi kepada siswa. Dan berupaya sebaik mungkin dalam menjelaskan suatu materi sehingga materi tersebut bisa diaplikasikan dalam keseharian siswa itu sendiri.

Tugas sebagai pendidik adalah tugas yang sangat berat bagi seorang guru. Guru dituntut mampu menanamkan nilai-nilai moral, kedisiplinan, sopan santun, dan ketertiban sesuai dengan peraturan atau tata tertib yang berlaku di sekolah masing- masing. Dengan demikian, diharapkan siswa tumbuh menjadi peribadi yang sigap, mandiri, dan disiplin. Dan sebagai motivator, guru harus mampu menjadi pemicu semangat siswanya dalam belajar dan meraih prestasi.

  1. Pemberlakuan sanksi yang tegas.

Dari penjelasan di atas, yang terpenting untuk menanggulangi munculnya praktik bullying di sekolah adalah ketegasan sekolah dalam menerapkan peraturan dan sanksi kepada segenap warga sekolah, termasuk di dalamnya guru, karyawan, dan siswa itu sendiri.

    Diharapkan, dengan penegakan displin di semua unsur, tidak terdengar lagi seorang guru menghukum siswanya dengan marah-marah atau menampar. Dan diharapkan tidak ada lagi siswa yang melakukan tindakan kekerasan terhadap temannya. Sebab, kalau terbukti melanggar, berarti siap menerima sanksi.

Simpulan

Kekerasan dapat terjadi dimana saja, termasuk di sekolah. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh UNICEF (2006) di beberapa daerah di Indonesia menunjukkan bahwa sekitar 80% kekerasan yang terjadi pada siswa dilakukan oleh guru. Belakangan ini masyarakat dikejutkan dengan berita mengenai seorang guru yang menganiaya siswanya. Hal ini, tentunya cukup mengejutkan bagi kita. Kita tahu bahwa sekolah merupakan tempat siswa menimba ilmu pengetahuan dan seharusnya menjadi tempat yang aman bagi siswa. Namun ternyata di beberapa sekolah terjadi kasus kekerasan pada siswa yang dilakukan oleh sesama siswa, guru atau pihak lain di dalam lingkungan sekolah.

Selanjutnya pencegahan terhadap kekerasan dalam dunia pendidikan ini dapat dilakukan dengan penerapan humanisasi pendidikan, internalisasi nilai-nilai islam, serta penumbuhan sikap tanggung jawab kepada pendidik, sehingga bisa memberikan contoh yang baik kepada peserta didiknya. Kemudian pemberlakuan sanksi yang tegas terhadap pelanggaran kekererasan, tanpa membeda-bedakan kedudukan ataupun status sosial.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.tribunjabar.co.id/read/artikel/4781/menyikapi-fenomena-kekerasan-dalam-pendidikan

http://www.oaseonline.org/oaseintim/doku2007/ngantung_kekerasan.htm

[1]http://www.oaseonline.org/oaseintim/doku2007/ngantung_kekerasan.htm. 15 Mei 2013.12:53

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s